Breaking News

Majalah basic Edisi 2024

Ilustrasi sampul basic/Aprilla Ragil Argiyani

Pada tanggal 1 Januari 1863, Abraham Lincoln mengeluarkan proklamasi emansipasi, yang menyatakan bahwa semua orang yang dijadikan budak di beberapa Negara Bagian yang telah ia tunjuk akan dibebaskan. Pada tanggal 19 September 1893, Gubernur Lord Glasgow menandatangani Undang-Undang baru yang menjadikan Selandia Baru menjadi negara dengan pemerintahan mandiri pertama di dunia yang memberikan hak pada perempuan untuk memilih dalam pemilihan parlemen dalam undang-undang. Pada tanggal 17 Agustus 1945, teks berikut dikumandangkan,

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja. 

Sepanjang sejarah, konsep emansipasi telah menjadi kekuatan pendorong perubahan dan kemajuan. Dari gender hingga kolonialisme, perjuangan untuk kebebasan dan kesetaraan merupakan perjalanan yang panjang dan sulit.

Meskipun telah terlihat kemajuan yang signifikan, perjuangan emansipasi masih jauh dari selesai. Penindasan dan diskriminasi sistemik terus berlanjut dalam berbagai bentuk, keberlanjutan perjuangan emansipasi pun masih dibutuhkan.

Permasalahan sistemik masih tetap ada dalam perjuangan kesetaraan gender. Perempuan terus menghadapi diskriminasi dan pelecehan, dan pernikahan dini marak ditemui. Kekerasan berbasis gender masih menjadi isu yang memprihatinkan. Perjuangan untuk kesetaraan gender memerlukan advokasi dan tindakan berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan sistemik ini.

Warisan kolonialisme juga terus berdampak pada banyak komunitas di seluruh dunia. Eksploitasi sumber daya alam, penerapan budaya dan bahasa asing, serta penindasan terhadap pengetahuan dan tradisi masyarakat adat, semuanya berkontribusi terhadap penindasan sistemik yang terus berlanjut. Masyarakat adat terus menghadapi diskriminasi dan marginalisasi, dan hak mereka atas tanah, sumber daya, dan penentuan nasib sendiri sering kali diabaikan. Perjuangan untuk hak-hak dan kedaulatan masyarakat adat merupakan perjuangan berkelanjutan yang memerlukan perhatian dan tindakan berkelanjutan.

Slavoj Žižek pernah berkata bahwa terkadang hal paling kejam yang bisa dilakukan seseorang adalah tidak melakukan apa pun. Apa yang terkandung dalam ungkapan tersebut adalah kritik pasifisme sebagai penolakan terhadap segala bentuk kekerasan subjektif, beserta tawaran antitesis berupa dukungan terhadap bentuk-bentuk kekerasan emansipatoris. Kekerasan yang kita butuhkan dewasa ini adalah kecaman terhadap kekerasan secara langsung, sehingga didapat sebuah operasi ideologis yang dapat menghilangkan bentuk-bentuk dasar kekerasan sosial. Oleh karena itu, kami mengajak pembaca untuk melaung, berteriak, menyeru, demi penghapusan kekerasan sistemik yang terjadi dalam kehidupan kita.


0 Komentar

© Copyright 2022 - LPM basic FMIPA UB