Breaking News

Mendeklarasikan Revolusi Pendidikan : Kontribusi Pemuda Sebagai Penentu Arah Kemajuan Indonesia Di Era Digital

 Brainly Sungkharisma

Ilustrasi : Freepik

Pendidikan sebagai Pilar Pembangunan

Di tengah perkembangan era digital, transformasi pendidikan di Indonesia yang lebih baik menjadi suatu keharusan untuk tidak diabaikan. Dalam upaya mewujudkan perubahan tersebut, langkah-langkah bijak diperlukan guna menghadapi setiap peluang dan tantangan yang muncul dalam perjalanan ini. Melalui tulisan opini ini, kita akan menjelajahi perubahan dinamika pendidikan di tengah era digital yang dinamis, menggali potensi perubahan yang positif, dan mengidentifikasi langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk memastikan bahwa sistem pendidikan tanah air dapat responsif terhadap tuntutan zaman yang terus berkembang menuju generasi Indonesia yang lebih baik.


Memegang peranan penting dalam pembangunan suatu negara, sejumlah alasan di mana pendidikan secara kolektif berkontribusi pada perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. “Pendidikan merupakan upaya menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk meraih kehidupan yang bermakna,” sebuah pemikiran Theodore Meyer Greene yang sejalan dengan urgensi pendidikan terhadap kualitas tenaga kerja yang terampil serta standar hidup yang lebih baik. Pendidikan membuka pintu akses ke peluang pekerjaan yang lebih baik dan penghasilan yang lebih tinggi. Ini dapat mengurangi tingkat kemiskinan, meningkatkan daya beli masyarakat, dan mengangkat standar hidup secara keseluruhan. Hal ini menjadi alasan bagi pendidikan untuk mampu mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk berkontribusi dalam proses pembangunan.


Tidak hanya menciptakan SDM yang kreatif dan inovatif, tetapi pendidikan juga menjadi fondasi untuk peningkatan produktivitas tenaga kerja. Pendidikan memberikan pengetahuan, keterampilan, dan pelatihan yang diperlukan untuk memahami dan berkontribusi pada sektor ekonomi. Artinya, tenaga kerja yang berasal dari SDM terdidik dapat lebih efisien dalam pelaksanaan tugas dan lebih adaptif terhadap perubahan teknologi. Terlepas dari hal itu, pendidikan bukan hanya tentang pemberian informasi, melainkan juga pembentukan karakter dan keterampilan yang membentuk modal manusia. Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya menjadi tujuan sosial atau investasi dalam individu, tetapi juga investasi dalam menciptakan keseimbangan pembangunan sosial dan ekonomi, mengurangi kesenjangan sosial, dan memungkinkan partisipasi aktif dari berbagai sektor masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi.


Analisis Kondisi Pendidikan di Indonesia

Pada tahun 2021, laporan dari World Population Review menjelaskan lima negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada, dan Perancis, memiliki Human Development Index (HDI) sangat tinggi, melebihi 0.9. HDI digunakan sebagai penilaian kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan mencirikan negara-negara ini sebagai negara maju berdasarkan kriteria IMF, termasuk PDB per kapita tinggi, kemajuan industri, keberagaman ekspor, dan integrasi keuangan global.


Sebaliknya, lima negara dengan sistem pendidikan terburuk, seperti Mali, Burkina Faso, Ethiopia, Chad, dan Angola, dikategorikan sebagai negara terbelakang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa karena tingkat kemiskinan yang tinggi, indeks kualitas manusia rendah, dan risiko ekonomi yang signifikan. Indonesia, dengan peringkat pendidikan ke-54 dari 78 negara yang dievaluasi, masih berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand dalam konteks ASEAN. Meskipun HDI Indonesia berada di peringkat 107 dengan nilai 0,718 (kategori tinggi), namun masih di bawah negara- negara ASEAN tersebut. Akibat dampak pandemi Covid-19, Indonesia turun kategori menjadi negara berpendapatan menengah bawah dari sebelumnya menengah atas.


Di belahan tropis yang kaya budaya ini, Indonesia menghadapi serangkaian tantangan dan hambatan dalam sistem pendidikannya. Memahami dinamika ini mengundang kita untuk menjelajahi naratif yang kompleks dan beragam.


Pertama-tama, tantangan mendasar yang dihadapi Indonesia adalah ketidakmerataan distribusi pendidikan di berbagai wilayah. Meskipun kemajuan telah dicapai, menurut data UNESCO pada tahun 2018, terdapat kesenjangan antara pulau-pulau besar dan daerah terpencil, dengan total tercatat sekitar 4,1 juta anak-anak dan remaja berusia 7- 18 tahun tidak memperoleh kesempatan dalam pendidikan formal.


Sistem kurikulum yang kadang-kadang kaku dan tidak selaras dengan kebutuhan dunia kerja juga merupakan hambatan. Dalam era globalisasi ini, adaptabilitas dan keterampilan yang relevan dengan pasar kerja menjadi semakin penting. Oleh karena itu, perlu peninjauan menyeluruh terhadap kurikulum untuk memastikan bahwa siswa Indonesia siap menghadapi tuntutan zaman.


Permasalahan pendanaan juga menjadi cerita serius dalam pendidikan Indonesia. Meskipun ada upaya dari pemerintah untuk meningkatkan anggaran pendidikan, masih terdapat kekurangan dana yang signifikan. Kondisi ini mempengaruhi ketersediaan fasilitas, kesejahteraan guru, dan perkembangan teknologi pembelajaran. Tidak kalah pentingnya, tantangan kualitas guru turut memengaruhi sistem pendidikan. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya tergantung pada kurikulum, tetapi juga pada kualitas tenaga pendidik. Hal tersebut memerlukan adanya upaya yang lebih besar dalam meningkatkan kualifikasi, motivasi, dan dukungan bagi guru di seluruh negeri.

Terakhir, penggunaan teknologi dalam pendidikan, meskipun berkembang pesat, masih menghadapi tantangan terkait akses dan pelatihan. Sementara beberapa daerah metropolitan telah mengadopsi teknologi pembelajaran secara efektif, di daerah terpencil sering kali terdapat kesenjangan teknologi yang menyulitkan implementasi pembelajaran online atau berbasis teknologi.


Peran Aktif Pemuda dalam Meningkatkan Kesetaraan Akses Pendidikan

Di tengah kompleksitas lanskap pendidikan Indonesia, pemuda menonjol sebagai agen perubahan yang memiliki potensi besar untuk membawa transformasi positif. Mereka membawa semangat segar, ide-ide inovatif, dan kegairahan untuk menciptakan perubahan yang lebih baik dalam sistem pendidikan yang seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan.


Pemuda, dengan energi mereka yang melimpah, dapat memainkan peran kunci dalam meningkatkan akses pendidikan di berbagai lapisan masyarakat. Mereka dapat menjadi mentor atau fasilitator dalam program-program pendidikan informal di daerah-daerah terpencil, membantu mengatasi kesenjangan aksesibilitas yang masih menjadi masalah serius di sebagian wilayah Indonesia. Selain itu, pemuda juga mampu menjadi penggerak perubahan dalam kurikulum pendidikan. Dengan keberanian mereka untuk berbicara dan membawa perspektif yang segar, mereka dapat berkontribusi pada pembaharuan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Pemuda dapat memperjuangkan penekanan pada keterampilan abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah, yang krusial untuk persiapan generasi mendatang menghadapi tantangan global.


Peran pemuda dalam mempromosikan inklusivitas dalam pendidikan tidak dapat diabaikan. Mereka dapat menjadi advokat bagi pendidikan inklusif, mendukung integrasi anak-anak penyandang disabilitas ke dalam sistem pendidikan yang konvensional. Dengan begitu, pemuda memberikan contoh nyata tentang pentingnya menghormati dan memahami keberagaman di dalam ruang kelas. Melalui inisiatif dan organisasi sukarela, mereka juga dapat merancang program pendidikan tambahan, seperti kelompok belajar, kursus online, atau lokakarya keterampilan, untuk memberikan peluang pembelajaran tambahan kepada siswa di luar lingkungan kelas tradisional.


Tidak hanya sebagai agen perubahan di tingkat pendidikan formal, pemuda juga memiliki peran dalam memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk pendidikan. Dengan pemahaman mereka tentang tren teknologi dan media sosial, pemuda dapat menciptakan inovasi digital yang mendukung pembelajaran jarak jauh, memberikan akses pendidikan kepada mereka yang berada di daerah terpencil.


Di samping peran pemuda tersebut, kolaborasi yang dilakukan dengan pihak terkait, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan LSM, dapat menciptakan sinergi yang kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pemuda dapat membuka saluran komunikasi yang efektif dengan pemerintah untuk menyuarakan aspirasi dan memberikan masukan terkait perubahan-perubahan yang diperlukan dalam sistem pendidikan.


Kerjasama dengan sektor swasta dapat mencakup partisipasi dalam program-program CSR (Corporate Social Responsibility) yang berfokus pada pendidikan, memberikan dukungan finansial atau sumber daya teknologi yang dapat meningkatkan pengalaman belajar. LSM juga dapat menjadi mitra strategis bagi pemuda dalam mengimplementasikan program-program pendidikan inklusif dan memastikan bahwa hak pendidikan setiap individu dihormati dan dipenuhi.


Keterlibatan pemuda dalam mengatasi hambatan akses pendidikan merupakan langkah penting untuk mencapai inklusivitas dan kesetaraan dalam sistem pendidikan. Mereka dapat melakukan survei untuk memahami hambatan-hambatan spesifik yang dihadapi oleh komunitas setempat. Hal ini mungkin melibatkan pembukaan pusat pembelajaran, pengadaan buku dan materi pembelajaran, atau bahkan penggunaan teknologi untuk mendukung pembelajaran jarak jauh.


Membantu mengembangkan program-program konkret untuk mengatasi kesenjangan pendidikan dapat merinci dengan langkah-langkah implementatif. Misalnya, mereka dapat menyusun program beasiswa untuk siswa berprestasi namun kurang mampu, menyediakan akses ke bahan pembelajaran online untuk daerah yang sulit dijangkau, atau memfasilitasi pelatihan keterampilan bagi masyarakat di daerah terpencil. Program-program ini harus dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan dan dampak jangka panjang, serta melibatkan pemangku kepentingan utama, seperti pemerintah, sekolah, dan kelompok masyarakat setempat.


Tidak kalah penting juga dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, mereka dapat mengadakan kampanye informasi melalui media sosial, seminar, atau kegiatan sosial lainnya. Pemuda dapat merancang program penyuluhan di sekolah-sekolah dan komunitas untuk menjelaskan manfaat pendidikan, baik dari segi pengembangan pribadi maupun peluang ekonomi. Pemuda juga dapat memanfaatkan kreativitas mereka, seperti membuat video pendek atau memproduksi materi promosi, untuk menarik perhatian masyarakat dan mengkomunikasikan pesan penting tentang pendidikan.


Panggilan Aksi untuk Pemuda Indonesia

Pemuda diharapkan dapat menjadi pendorong utama dalam meningkatkan akses pendidikan di seluruh Indonesia. Mereka dapat menciptakan jaringan yang mendukung dan mengembangkan solusi-solusi kreatif untuk memastikan bahwa setiap anak di Indonesia memiliki kesempatan yang setara untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Partisipasi aktif pemuda di bidang pendidikan dapat memiliki dampak positif yang luas terhadap pembangunan nasional. Pendidikan yang lebih baik menciptakan masyarakat yang cerdas dan terampil, mempersiapkan generasi mendatang untuk berkontribusi dalam berbagai sektor. Dengan meningkatnya tingkat pendidikan, akan terjadi peningkatan produktivitas, inovasi, dan daya saing nasional. Ini menciptakan fondasi yang kuat untuk pembangunan berkelanjutan dan kemajuan bangsa secara keseluruhan.


Dengan memahami peran krusial mereka dalam membentuk arah pendidikan, diharapkan pemuda akan terlibat secara langsung dalam memecahkan tantangan- tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan. Ajakan ini mencakup penanaman semangat kepedulian terhadap pendidikan di antara sesama pemuda, bersama-sama membangun masa depan melalui pendidikan, mengejar pengetahuan, dan memastikan bahwa setiap individu memiliki akses penuh dan setara ke peluang pendidikan.


REFERENSI


Napitupulu, E. L. (2012). Pendidikan Tak Merata, Kualitas Masyarakat Tertinggal.

Diakses melalui Kompas.com: https://edukasi.kompas.com/read/2012/09/13/16333195/~Edukasi~News

Patandung, Y., & Panggua, S. (2022). Analisis Masalah-Masalah Pendidikan dan Tantangan Pendidikan Nasional. Jurnal Sinestesia, 12(2), 794-805.

Psacharopoulos, G., & Woodhall, M. (1985). Education for Development: An Analysis of Investment Choices. Oxford: Oxford University Press.

Putra, T. (2022). Pendidikan Kunci Utama Kemajuan Bangsa. Diakses melalui djkn.kemenkeu.go.id: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/15010/Pendidikan-Kunci- Utama-Kemajuan- Bangsa.html#:~:text=Sistem%20pendidikan%20yang%20baik%20akan,maka

%20negara%20tersebut%20akan%20terbelakang

        UNESCO. (2015). Education for Sustainable Development Goals: Learning                   Objectives.
Diakses melalui https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000247444



0 Komentar

© Copyright 2022 - LPM basic FMIPA UB