Breaking News

Tak Ada Lagi Cerita Tentang Tuhan

Yohanes Rasultantino Nenta

Sumber: https://fixthephoto.com/id/dust-overlay-textures

“Sebenarnya, Tuhan tak benar-benar peduli dengan kita, Bu. Tuhan masih saja sempat menghempaskan kita di dalam debu dan tangis seperti ini.” Dialog yang runyam dimulai dari aku yang duduk di bawah pohon yang kuberi nama “Kamu”. Ibu yang saat ini sedang duduk di samping aku tak pernah menanyakan mengapa aku memberi namanya seperti itu. Bahkan, Ayah juga yang dari kemarin sudah dicampur dengan debu dan tanah, belum sempat menanyakan perihal nama itu!

“Sudahlah nak, biarkan Ayah kembali ke dalam tubuhnya yang mulia. Tuhan itu baik, karena memperkenankan ayahmu untuk berjalan dalam waktu sejak 62 tahun lalu. Tuhan juga baik karena telah memberi hati untuknya sehingga bisa memeluk rindu dan kangen dalam hatimu dalam-dalam,” kata ibu sambil mengelus kepalaku yang mungil. 

“Apakah Ayah akan tetap kekal dalam waktu bu? Ataukah ia akan ditelan oleh debu dan air mata kita?.” Ibu kemudian kembali mengambil tangaku dan memegangnya dengan erat, lalu berkata, “Nak, waktu mungkin memang tak akan kekal. Tetapi, percayalah, cinta dan rindu yang disematkan Ayah saat kamu tidur akan tetap ada. Wangi dan hangat pelukannya akan menjelma angin yang memelukmu perlahan. Tak ada yang hilang, tak ada yang lepas. Ingat nak, debu tak lekas lepas dari kamu dan juga Ibu, karena kita berpijak di atasnya.” Dialog pagi ini selesai. Ibu masuk ke dalam rumah dan Kamu kembali memeluk aku. 


Ayah, aku sedang tidak baik-baik saja!

Aku ingin menjadi debu seperti Ayah

Aku ingin menjelma angin yang nanti terbang bersama Ayah

Aku ingin tetap memeluk Ayah di bawah Kamu yang semakin rindang ini


Waktu dan aku masih menangis 

Rindu dan harap juga selalu bersemai di setiap detik

Lewat coretan ini, aku ingin menumbuhkan rinduku di atas rumah Ayah

Aku ingin menanam pelukan yang paling indah untuk Ayah


Terakhir, aku juga ingin menyampaikan satu pertanyaan

Apakah Tuhan itu benar-benar baik ya Ayah?


Tak ada lagi dialog hari ini dan selamanya. Tak ada lagi secangkir kopi pahit yang menjelma inspirasi. Terakhir, aku ingin menitipkan rindu di atas rumah Ayah agar tak ada lagi air mata. Semoga Tuhan memang benar-benar baik. “Kamu memang selalu memeluk kamu ya nak,” kata Ibu dari jendela rumah kecil kita.


Penyunting: Nazarru Djalu Ulhaqi

8 Komentar

© Copyright 2022 - LPM basic FMIPA UB