U P D A T E

Gempa Cianjur Mencapai 5,6 SR, Kenapa Bisa Sangat Merusak?

Sumber gambar: news.detik.com


Korban meninggal dunia akibat gempa di Cianjur, Jawa Barat terus bertambah. Data per tanggal 23 November 2022 sore dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 271 orang meninggal dunia, 2.043 orang luka-luka, dan 61.908 warga mengungsi. 


Dikutip dari twitter kepala BMKG Daryono 22 November 2022, gempa dengan magnitudo 5,6 sangat merusak di Sukabumi dan Cianjur. “Kedalaman gempa yang dangkal, struktur bangunan tidak memenuhi standar aman gempa, dan lokasi pemukiman berada pada tanah lunak (local site effect-efek tapak) dan perbukitan (efek tipografi)."


Banyaknya korban jiwa menurut Kepala BMKG Dwikorita bukan disebabkan karena guncangan gempa bumi, tetapi bangunan yang tidak sesuai dengan struktur tahan gempa. 


"Mayoritas bangunan yang terdampak karena dibangun tanpa mengindahkan struktur aman gempa yang menggunakan besi tulangan dengan semen standar. Akibatnya, bangunan tersebut tidak mampu menahan guncangan gempa," ujarnya.


Semestinya, dengan tipografi yang demikian serta letak pemukiman yang berada di daerah tanah lunak maka, struktur bangunannya harus memenuhi standar tahan gempa. Daryono mengungkapkan, bahwa banyak rumah yang dibangun tanpa struktur aman gempa. Bangunan-bangunan kebanyakan menggunakan besi tulangan atau semen standar. Tipografi wilayah yang tidak stabil pada perbukitan Cianjur, mengakibatkan rumah-rumah penduduk mengalami kerusakan yang terbilang parah.


“Kerusakan akibat kepala tersebar di 94 titik. Namun terdapat 7 kecamatan yang dianggap menjadi daerah terdampak paling parah. Kecamatan Cugenang, Cianjur Kota, Warungkondang, Cilaku, Sukaresmi, Cipanas, dan Pacet,” ungkap Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian daerah Jawa Barat Kombes Ibrahim Tompo.


Daerah-daerah di sekitar sesar Cimandiri memang sering kali terjadi gempa. Sesar Cimandiri merupakan patahan geser aktif yang memanjang dari Teluk Pelabuhan Ratu hingga sekitar Padalarang. Daryono menyampaikan, gempa yang terjadi di zona tersebut rata-rata kekuatannya tidak ada yang melebihi 6,0.


Intensitas gempa susulan sejak 22 November lalu akan semakin melandai dalam kurun waktu 4 hari kedepan. “Gempa-gempa yang terjadi sebagian besar tidak dirasakan, hanya alat yang bisa mencatatnya saja dan beberapa yang bisa dirasakan. Gempa-gempa yang terjadi sudah semakin reda dan stabil,” ujar Dwikorita .(ar/ana)

No comments