U P D A T E

The Part of Terminal Number 9

  Skymahendrav - basic | Selasa, 9 Maret 2021




“Jangan jawab suara ketukan dibelakang pintu ini sebelum kau memastikan para merpati bukanlah orang yang berada dibalik sana.”

Sosok itu terdiam. Matanya terus menelisik kedalam lembaran kertas notes yang dia temukan terselip di bawah pintu apartemennya.

Deru truk dan mobil yang melintas menembus celah-celah tembok kusam apartemen itu. Kota pelabuhan Terminal Nomor 9 memang tak pernah sepi setiap saatnya. Kadang sirene polisi dan ambulans juga berseliweran, meskipun tak banyak yang curiga atau bertanya-tanya. Separuh kemungkinan dari penyebab keberadaan kendaraan tersebut tidak akan jauh dari gangster jalanan yang sering berkeliaran di kota ini, menyebarkan bau busuk kriminalitas khas kota pelabuhan.

Dia juga gangster. kejadian luar biasa beberapa hari yang lalu telah mengubah jalan hidupnya. Memberi dia lebih banyak alasan untuk berusaha bertahan hidup. Terhadap lingkungannya yang kotor dan penuh darah dia tak peduli. Dia lebih sering menyelipkan harapan dan mimpinya dibalik nama kotanya yang telah berkarat. Sementara orang lain belum tentu yakin akan mimpinya tersebut. tetapi dia tau, dia punya kawan-kawan seperjuangan yang juga memiliki harapan yang sama terhadap kota tercinta mereka.

---- 3 Hari yang lalu, Jaringan Irigasi Terminal Nomor 9 ----

Sesa menelengkupkan sebagian besar jari-jemari tangannya untuk menutup hidungnya rapat-rapat. Didepannya seorang pria sedang berusaha memutar tuas saluran pembuangan air tempat itu, menghiraukan gangguan dari bau busuk yang sewaktu-waktu dapat mencemari otak mereka. Setidaknya pria itu tahu, otak mereka jauh lebih kotor daripada saluran got manapun.

Tuas itu berhasil digerakkan, karatnya memang tebal namun otot pria itu bisa mengatasinya. Aliran listrik ditempat itu berhasil dia nyalakan. Senyumnya merekah melihat tidak ada halangan berarti yang menghadang rencana ini.

"Kau masuklah dan temukan barang itu, biar aku berjaga di sini. Cepatlah!."

Sesa mengangguk, dia bergerak lebih kedalam lagi. Sebenarnya dia benci melakukan hal ini. Apa yang dilakukannya saat Ini betul-betul ilegal dan berbahaya, namun bayaran yang orang itu tawarkan cukup untuk menghidupinya beberapa bulan kedepan.

Lampu yang bercahaya menyambutnya setiap beberapa belas langkah. Cahaya kekuningannya menerangi jalannya walau temaram. Dia tidak mengerti begitu haruskah pemerintah memasang lampu penerangan ditempat ini, selain petugas gorong-gorong yang mungkin takkan betah berlama-lama di bawah sini, jalur ini sangat berguna untuk penyeludupan barang maupun persembunyian orang-orang berbahaya.

"Atau ini hanya pancingan," gumamnya menyingkirkan suasana sepi yang menghantui tempat itu. Dia terus melangkah menapaki lorong itu sendirian. Langkahnya baru berhenti saat matanya menangkap sesuatu yang berkilau menempel di langit-langit tempat itu.

Dinamit ?

Tinggi tempat ini sekitar 5 meter, benda itu berada ditempat yang tak bisa dijangkau matanya untuk memastikan apakah itu merupakan peringatan yang tak mereka ketahui sebelumnya. Akhirnya Sesa memutuskan untuk menghubungi pria tadi dengan handphonenya karena takut akan terjadi sesuatu kalau dia mengabaikan benda itu.

“Harley, aku melihat benda aneh di atas lorong ini”

"Ad- apa, -au me--muka- nya ?."

Gangguan sinyal, Sesa masih terdiam. Ini normal, pikirnya.

"Belum. Ada benda aneh di atas kepalaku saat ini. Aku tidak dapat memastikannya, jadi kalau kau merasa khawatir mungkin kita bisa lanjutkan lain waktu. Biar kufoto benda itu untuk kita selidiki bersama."

Entah rekannya mengerti apa yang dia katakan, sementara gangguan sinyal masih berlangsung. Dia segera melakukan rencananya setelah menutup teleponnya. Efisiensi waktu nomor satu pikirnya.

Selesai memfoto benda itu beberapa jepretan. Dia segera beranjak kembali. Langkahnya menggema didalam sana. Kupingnya tetap peka mendengarkan tetesan-tetesan air dan suara hewan got yang turut dia temui, selain bau busuk yang telah akrab dengan hidungnya.

"Hei apa yang kau lakukan di sini..."

Langkah Sesa terhenti saat telinganya menangkap suara seseorang diseberang sana. Tinggal beberapa belokan lagi sebelum dia akan menemukan tempat mereka memulai semua ini. Dan suara tadi telah menyengat jantungnya, itu bukan berasal dari rekannya.

"Turunkan senjatamu, hentikan !"

Suara tembakan terdengar tepat setelah kalimat itu berakhir. Sesa terdiam sementara peluhnya membanjiri sekujur tubuhnya. Jelas itu bukan pertanda baik bagi kelangsungan rencana ini.

"Mereka menemukan kita," rekannya muncul dari balik tembok dengan memegang sepucuk pistol hitam ditangan kirinya. "Tak ada jalan keluar dibelakang sana, terus bergerak."

“Sial,” umpat Sesa dalam hati.

Orang itu berjalan memimpin didepan. Sesa mengikuti langkahnya sambil sesekali mengawasi lorong-lorong lain disekitar mereka.

"Apa tidak sebaiknya kita menghubungi orang-orang di permukaan."

"Jaringan komunikasi sedang terganggu. Bukan karena tempat ini tak dapat dijangkau sinyal. Para Merpati baru saja menghancurkan tower komunikasi kita di atas sana. Semua jalan keluar kita telah ditutup oleh mereka."

Kalimat kita adalah untuk dia, orang itu, dan komplotan kriminal yang mencoba bersatu ditengah keterpurukan yang dramatis ini. Mereka adalah saudara tak sekandung yang mencoba membangun Terminal no. 9 meskipun harus mengotori tangan mereka dengan darah sekalipun. Bagaimana tidak, para Merpati yang bertugas menurunkan angka pelanggaran dan kriminalitas yang telah begitu parah dikota ini ternyata membawa maksud lain dengan mengkorupsi setiap dana yang dikucurkan oleh pusat untuk Terminal no. 9, bahkan dengan tanpa malu didepan rakyat kota itu sendiri menampakkan kemewahan hasil dari uang kotor yang mungkin tidak akan dirasakan Merpati di kota lain.

Meskipun demikian, Merpati-merpati itu mampu menunjukkan rapor cemerlang mengenai pengendalian kejahatan di kota itu. Tidak, bukan hanya itu. Mereka juga mendramatisir segalanya tentang kota ini. Sesa dan kawan-kawannya di-cap udik, bangsat negara, ras yang tidak dikehendaki karena hanya melahirkan bajingan-bajingan kelas kakap yang meneror keamanan di negeri, dan bodohnya pemerintah mengiyakan semua hal itu dan semakin percaya bahwa Merpati telah mengatakan kebenaran berdasarkan apa yang mereka temui di laporan-laporan cemerlang milik mereka.

Sebagian besar penghuni kota ini tahu itu, bahwa mereka merupakan noda kotor di negeri ini dan mengutuk Pemerintah dan Para Merpati disetiap doa yang sempat mereka panjatkan. Tower itu, satu-satunya penguat sinyal di kota Sesa yang dibangun atas dana dari gangster dan mafia yang bercokol di kota ini merupakan wujud kekesalan mereka terhadap keacuhan pemerintah akan pembangunan di Terminal no. 9.

"Tower itu tetap ilegal meskipun banyak memberikan manfaat bagi kota ini. Bukankah sejak awal tujuan kita mendirikan tower itu hanyalah untuk kepentingan kita sendiri," Harley menajamkan pandangannya pada mata Sesa. "Kita tak akan pernah bangkit dengan sikap acuh tak acuh dari pemerintah di pusat sana. Bagaimanapun kontribusi kita selama ini, kota ini takkan pernah berjaya Sesa."

Sesa membuang mukanya, sudah terlalu sering kalimat-kalimat seperti itu terdengar di gendang telinganya. Sebagian dari hatinya kadang retak setiap membayangkan bagaimana kota kelahirannya selalu dicap sebagai kota yang tak akan pernah maju.

"Kota ini pasti akan bangkit Harley."

Pria itu menyunggingkan senyumnya seperti saat awal tadi. Dia tahu dan kenal sifat Sesa yang keras kepala meskipun tak ada jalan untuk mewujudkan mimpinya itu. Setidaknya ada yang masih menaruh harapan pada kota ini pikirnya.

Mereka tiba di bawah benda berkilauan tadi. Sesa menunjuk benda itu

"Ini yang ingin aku tunjukan padamu Harley,"

Harley mengamati benda itu lamat-lamat.

"Alarm Inframerah, ini baru dipasang mungkin kemarin malam, setelah regu penyeludup pergi dan kurasa kau telah mengaktifkan alarm itu hingga petugas tadi datang. Sepertinya mereka memang ingin menjaring setiap pengunjung hari ini. Tak ada yang akan mereka suguhkan saat kita tertangkap nanti. Mungkin kepala kita akan bolong saat itu juga."

Sesa meluruskan pandangannya pada lorong dibelakangnya, Harley juga mengetahui itu dari langkah-langkah samar dibelakang mereka.

"Mereka dibelakang kita,"

"Sesa, tetap dibelakangku. Ragriz dan kawan-kawannya pernah menimbun beberapa peledak disekitar sini."

Kawan lama, pikir Sesa. Mereka pernah bertemu dan bersama-sama dahulu sekali. Sekarang Ragriz mungkin telah mati mengingat pekerjaannya berkali-kali lebih berbahaya dari hanya sekadar penyeludup biasa.

"Ragriz tidak pernah mati Sesa," Harley seperti dapat membaca apa yang dipikirkan oleh Sesa. "Dan seperti dia kita juga tidak akan berakhir di bawah sini".

Nafasnya menderu di antara langkah yang semakin terdengar jelas.

"Kita batalkan tugas awal kita dan runtuhkan tempat ini," ucap Harley. Langit-langit tempat itu bergetar entah oleh apa saat mereka sedang berlari "Aku yakin di atas sana sedang terjadi pertempuran besar,"

---- Permukaan Kota Terminal Nomor 9 ----

Suara helikopter meraung-raung. Sementara tembakan gencar terdengar disegala penjuru kota. Pertempuran seperti itu tak pernah terjadi sebelumnya. Mobil-mobil berserakan ditinggalkan pemiliknya. Beberapa juga mengepulkan asap tebal -terbakar. Jalanan kota ini bersama semua aktivitasnya benar-benar telah lumpuh akibat aksi separatis yang dilancarkan orang-orang berbahaya dikota itu.

Ragriz menatap kekacauan diluar sana dari salah satu gedung pencakar langit dikota itu. Senapan AK menempel didadanya.

"Harley dan Sesa pasti terjebak di bawah sana. Tobias yang menugaskan mereka mengambil benda-benda yang kita seludupkan. Jika para merpati menemukannya, Tamatlah kita Yosef"

Yosef, asistennya terdiam tanpa komentar. Beberapa bawahan Ragriz lainnya juga berada ditempat itu.

"Sekarang coba tebak apa yang akan dilakukan dua kadal itu," Ragriz menatap kearah Yosef dan yang lainnya. "Harley yang mengetahui bahwa tempat itu tak ubahnya gudang dinamit selain sebagai tempat aman bagi inventaris kita, pasti punya kejutan besar untuk para Merpati."

Ucapan Ragriz tadi membuat wajah pengikutnya bertambah semangat. Ragriz membuka jaringan telekomunikasi dengan transponder didepannya. Inilah satu-satunya alat yang mereka gunakan untuk berkomunikasi sebelum Tower berdiri.

"Akan ada ledakan besar kawan. siapa pun yang berada didekat jalur ke-15 bersiaplah. Kita telah menyiapkan kejutan besar untuk tamu kita yang tanpa malu merusak Tower itu. Tobias, aku ingin kau bersiap di tempat penimbunan kita, ‘mereka’ akan membukakan jalan bagi kalian untuk menyelamatkan benda-benda itu."

---- Jalur ke 15, Kota Terminal Nomor 9 ----

Jalanan kota itu dipenuhi oleh suara tembakan yang saling beradu antara para merpati dan kelompok separatis yang Ragriz kerahkan untuk melindungi tempat itu. Gedung-gedung disekitar jalan itu penuh lubang dan semakin rapuh akibat pertempuran hebat yang meluluh lantakkan tempat itu.

Tak berselang lama kemudian tanah tempat mereka berdiri bergejolak dengan hebat.

BLAARRRR....

Seketika terdengar ledakan keras yang menghancurkan sebagian besar jalan beraspal tempat itu. Tak sampai disitu saja, ledakan itu terus menjalar ke ledakan-ledakan lain saling susul-menyusul dan membelah kota itu menjadi dua. Tanah seakan-akan runtuh dan ikut membawa gedung-gedung diatasnya hingga roboh menimpa siapa pun di bawah sana. Asap tebal mengepul membumbung ke langit dan teriakan kesakitan bersatu padu mengedarkan kengerian dari kota yang tidak pernah mengalami kehancuran separah itu.

Ragriz baru saja turun dari gedung itu dengan penjagaan ketat bawahannya. Matanya menatap kehancuran yang belum pernah dia jumpai sebelumnya. Sementara itu pertempuran terhenti untuk sementara. Dua kubu itu sama-sama tercengang dengan hancurnya kota itu. Ragriz segera angkat bicara melihat keadaan yang sedang menguntungkan.

"Cari semua perbekalan kita di bawah sana. Bawa semuanya jangan mematung saja, ayo cepat, CEPAT!"

Dua orang muncul dari balik asap tebal. Ragriz langsung mengenali keduanya sebagai Harley dan Sesa. Keduanya tampak berantakan dengan baju compang-camping berlumurkan darah. Debu putih yang membaluti tubuh mereka tampak tebal saat diterpa cahaya matahari.

"Selamatkan dua orang itu." Dua bawahannya segera berlari untuk membawa orang yang Ragriz maksud agar segera masuk ke dalam gedung markas Ragriz. Untuk sesaat Ragriz terdiam memandang keadaan yang baru saja dialami oleh kotanya. Lalu dia beranjak kedalam gedung itu di mana 2 orang yang diselamatkannya sedang beristirahat dan diobati oleh pengikutnya..

"Hai kawan lama"

Sesa tersenyum tipis, pelipisnya berlumuran darah. Harley menyandar pada tembok disamping Sesa dengan keadaan yang tidak lebih baik dari pada rekannya.

"Silakan beristirahatlah dengan tenang, kalian menyelamatkan harta terbesar kami di bawah sana. Bukan semuanya mungkin, setidaknya sebagian besarnya," Ragriz memandangi keadaan diluar sana. "Para Merpati telah mundur, ini bukan laporan bagus bagi rapor mereka karena beberapa gedung pemerintahan turut roboh akibat ulah kalian.

Sesa meringis, kebanggaan terukir diwajahnya.

“Akan kuusahakan kalian terlindungi di tempat aman kami. Kota ini perlu sedikit renovasi sepertinya, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kami akan segera memperkuat diri setelah ini," ucap Ragriz dengan nada penuh keyakinan.

------------------------------------------- 22-2-21


No comments