TERBARU

Cerpen: The Orion Castle Affair



"Dengan segala hormat, Vanesa. Kau tidak bisa seenaknya membawa perkara ini ke hadapan ‘The Overlord’."


Gadis itu mengerutkan dahinya, tampak keheranan dengan suaraku yang telah kumantapkan meskipun masih terdengar sedikit gugup. Iris matanya yang kuning cerah menusuk pandanganku tanpa ragu, namun aku tetap tak bergeming untuk meloloskannya masuk ke ruang itu.


"Hei, Kadal Pemalas! Kau tidak mengerti dimana posisimu sekarang, ya? Semua alasanmu tidak akan berguna lagi ketika Tuan Misteltein mendengar teriakanku dari sini. Tidak ada jalan lain bagimu, Pecundang! Mati saja sana!"


Critical Hit! ---


Kakiku seakan kehilangan kekuatannya saat kalimat itu tanpa ampun merobohkan sikap defensif yang sebelumnya telah kukokohkan. Aku tahu hal ini pasti akan terjadi, dan sering miskomunikasi dengannya melibatkan kalimat-kalimat tajam yang meluncur dari mulutnya tanpa pandang bulu. Luar biasa! Bahkan antisipasiku terhadap momen tadi ternyata tidak mempan untuk menghalau dampak psikis akibat kalimat sarkasnya yang seharusnya sudah familiar di telingaku.


Keringat dingin menjalari seluruh permukaan kulitku, seakan-akan mengejekku karena telah dikalahkan oleh gadis itu. Dia tampak puas melihat gelagatku yang ketakutan dengan sentakannya. Seringai kemenangan tampak berkibar di wajahnya yang berseri-seri melihat ketidakberdayaanku.


Dari awal semua ini memang salahku yang tak sengaja memecahkan vas bunga di ruang kerajinan saat sedang mencari-cari Tuan Misteltein tadi pagi. Tentu saja Vanesa si pembuatnya sangat marah mengetahui hasil karyanya telah hancur berkeping-keping. Jika Tuan Misteltein sampai mengetahui kejadian buruk itu dari mulutnya, maka harga diriku akan tercoreng sepenuhnya. Tak ada jalan lain selain mencoba bernegosiasi dengan menuruti semua kemauannya untuk saat ini.


"Kalau begitu," ucapku dengan sedikit keraguan. "Biarkan aku membayar kesalahanku, Vanesa. Seperti biasa, aku akan menuruti apapun kemauanmu asalkan jangan sampai Overlord mendengar apapun mengenai kejadian tadi." 


Aku berdiri membeku di depannya setelah mengatakan kalimat itu. Sebagai pelayan kepercayaan Tuan Misteltein di kastil ini, aku telah menyadari konsekuensi dari kalimat yang baru saja kuucapkan.


Vanesa masih terdiam di tempatnya seperti memikirkan sesuatu. Mataku mencuri pandang ke raut wajahnya yang tampak antusias setelah mendengar ucapanku, ini pertanda baik sekaligus juga berita buruk. Apapun permintaannya setelah ini harus dituruti atau dia akan membeberkan semua kesalahanku pada Tuan Misteltein dan menurunkan reputasiku di matanya. 


"Baiklah, Pemalas. Jadilah anak baik dan ikutlah denganku sekarang." Ucapnya seraya berpaling dari hadapanku dengan langkahnya yang tampak riang gembira. Sekilas tadi aku melihat sekelebat cahaya melintas di ufuk matanya yang kuning cerah itu. Tentu aku tak berani berspekulasi tentang apa arti dari fenomena yang tadi kulihat, namun entah mengapa leherku terasa berat seakan ditindih sesuatu. Ah, semoga saja ia tidak menyuruhku melakukan hal-hal yang berlebihan seperti dulu.


---

Mengherankan, ternyata dugaanku meleset.


Kami tiba di ruang kerajinan dengan segala kesibukannya yang tiba-tiba menghilang seakan-akan ditelan bumi. Memang beberapa saat lalu intensitas kesibukan di kastil ini tiba-tiba berkurang drastis hingga aku berniat mengedarkan Channeling Eye-ku untuk menyelidiki seandainya Vanesa tidak memperalat kemampuanku saat ini.


Eureka! Orhan, tongkat kita telah jadi!” Serunya dengan wajah berbinar-binar. Aku sedikit bingung sebenarnya karena yang kulakukan hanyalah mengedarkan 3 mata ‘Channeling Eye-ku’ di sekeliling kami, memperhatikan keseluruhan benda itu dan mengomentari setiap sisi tongkat buatannya yang memang setengah jadi tadinya.


“Bagaimana menurutmu tentang tongkat buatan kita ini, Orhan?”


Mendengar pertanyaan itu tentu aku mencoba meluruskan persepsinya, karena aku menghargai kerja kerasnya menyelesaikan tongkat berlapis emas dan butiran permata itu. Memalukan kalau namaku disandingkan dengannya dalam wacana pembuatan benda ini padahal aku hanya berdiri dan membantunya saja di saat-saat tongkat itu akan selesai.


“Bukan kita, Vanesa. Tongkat ini kan sepenuhnya buatanmu. Aku hanya memperhatikan saja sejak tadi. Ini murni tongkatmu jadi jangan...”


Suaraku tercekat di kerongkongan saat mataku menangkap butiran bening yang tiba-tiba meluncur di pipinya yang kemerah-merahan.


“Hei, mengapa kau menangis?”


“Oh maaf,” Vanesa tiba-tiba mengenyahkan wajahnya dan mengusap air matanya.      “Ah-Haha, tidak apa-apa Orhan, aku hanya kelelahan. Ya.. aku terlalu lelah hari ini, haha.” sambungnya.


Aku terdiam dan menyadari ada yang aneh di balik gelak tawanya tadi. 


“Vanesa, kau menangis. Jangan menutup-nutupinya dariku.”


Sebuah jeda tercipta di antara kami. Dia masih tertunduk bisu, membiarkan beberapa tetes selanjutnya membasahi permadani biru di kaki kami dan menumbuhkan kecemasan yang menjalar di sekujur tubuhku. Tidak wajar kalau tiba-tiba dia menangis begini, pasti ada sesuatu.


Kreet..

Pintu ruang ini tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok Tuan Misteltein yang tegap dan berwajah sejuk. Dia menatap kami berdua dengan raut wajah yang berbeda daripada biasanya.


“Vanesa, Raja Boris dan pasukannya telah masuk ke ruang pertemuan kita.” Mata The Overlord melirikku sekejap lalu melanjutkan ucapannya kepada Vanesa. “Sekarang perdamaian ada di tanganmu, lakukanlah tugasmu.”


Bersama satu anggukan dari kepalanya, serbuk cahaya matahari tiba-tiba berputar di sekitar kami. Matanya bersinar kuning cerah seakan-akan ada mentari di baliknya, lalu debu-debu menyatu ke dalam tubuh gadis itu. Auranya meningkat saat mataku menganalisisnya. Aku tercengang karena tak menyangka kekuatan yang dianugerahkan oleh para alkimiawan sewaan Tuan Misteltein pada mata Vanesa bisa sehebat ini. Padahal selama ini dia hanya menggunakan mata itu untuk menciptakan kerajinan dan perkakas kerajaan di ruang ini.


Dia melangkah meninggalkan kami berdua dengan tongkat itu tanpa mengatakan sepatah kata pun padaku. Lalu setelah bayangannya menghilang di balik pintu, Tuan Misteltein melangkah masuk dan menjentikkan jarinya dengan keras. Aku bisa merasakan kegusaran hatinya yang tidak tergambarkan dari suara jentikan itu. Tak lama kemudian para pelayan, koki-koki, dan Kesatria Orion yang tadi tak tampak muncul, melangkah pelan-pelan dari balik kegelapan sisi tembok ruang ini. Mereka berteleportasi dari suatu tempat yang belum kuketahui, kurasa mereka bersembunyi atas perintah dari Tuan Misteltein sendiri. Beberapa pelayan nampak menitikkan air mata saat menatapku yang terdiam kebingungan dengan ulah teatrikal yang mereka lakukan.


“Sudah cukup bukan salam perpisahannya?” Tuan Misteltein membuka suaranya. “Nah, sekarang tolong hentikan Channeling Eye-mu, Orhan!”


Perintah mutlak itu adalah paksaan keras bagiku. The Overlord mengambil alih kekuatanku hingga menyisakan kelelahan hebat, seakan-akan nyawaku ditarik dari wadahnya dengan paksa. Jelas aku telah membangkang dengan memunculkan semua mata yang bisa kukeluarkan untuk menemukan jawaban atas semua keanehan ini beberapa saat yang lalu. Namun mengapa wajah teduh itu tiba-tiba bertindak setegas ini terhadapku?


Beruntung aku masih menangkap bayangan tentang suasana ruang pertemuan saat ini. Kastil kami mengajukan permintaan gencatan senjata setelah perang tak berujung yang mendera wilayah kami selama beratus-ratus tahun, dan memenuhi permintaan Raja Boris yang serakah untuk menyerahkan dua pertiga wilayah Kerajaan Orionpolis kepada Imperial Merah. Ruangan itu bersinar dengan cahaya senja yang menyiraminya dari jendela-jendela tinggi. Semua anggota kastil tampak hadir di ruang itu menghadap wajah Raja Boris dan pengawalnya yang tengah bersuka cita, dan tentu aku segera paham dan menyadari bahwa Tuan Misteltein telah menggunakan bayangan untuk membentuk tubuh kami di tempat itu. 


 “Ada apa, Tuan? Tolong jelaskan tugas yang Anda bebankan kepada Vanesa,”


“Atas nama penderitaan penduduk Orionpolis, Orhan, kuatkan dirimu. Vanesa akan mengorbankan keberadaannya dan menguapkan dirinya di tempat itu sebentar lagi.”


Aku tertegun bersamaan dengan gelembung air yang memenuhi kelopak mataku yang terasa panas. Penguapan atau ‘Evaporation’ merupakan sihir terlarang yang membuat penggunanya dan objek hidup di sekitarnya menabrak dimensi awal dan akhir. Kekuatan itu meledak dari komponen sihir terkuat yang dimiliki penggunanya seperti mata milik Vanesa. Hal ini berarti setelah dia tidak berada di dimensi mana pun, maka segala hal tentang gadis itu akan hilang dari ingatanku selamanya.


“Mengapa Anda mengorbankan Vanesa?” Tanyaku lirih karena nafasku seakan tertukar dengan racun yang menyesakkan. “Mengapa harus matanya, bukan mataku yang Anda uapkan?”


“Karena aku masih membutuhkanmu untuk menghabisi pasukan Imperial Merah. Setelah mereka melupakan rajanya, kau satu-satunya panglima kepercayaanku yang dapat mewujudkan hal itu.”


Itu bukanlah alasan yang bagus. Ingin rasanya aku memberontak seandainya dia bukan Tuanku Misteltein. Semua kenangan berhargaku, dan air matanya tadi menambah dalam luka di dalam sanubariku hingga secara reflek kutarik pedang panjang dari warangkanya dan melesatkannya ke ulu hatiku.


Dimensi bergetar, badai waktu menghujam keseimbanganku dan melemparkanku pada keadaan sebelumnya.


Trang…!!!


Pedang itu terjatuh ke lantai, berdenting dan menyadarkanku dari lamunan. Aku mengangkat pandanganku dan menangkap wajah kebingungan dari para anggota Kastil Orion, serupa dengan keganjilan yang mengganjal di hatiku. Bukankah seharusnya mereka bekerja di posnya masing-masing? Apa yang aku lakukan disini? Aku bertanya-tanya dengan penuh penasaran.


Tepukan ringan menimpa pundakku, Tuan Misteltein menatapku dengan wajah sejuknya seperti biasa, kurasa kami sedang mengadakan sesuatu sekarang tetapi aku sendiri tak ingat apa itu.


Setelah itu para pelayan segera keluar dari ruangan dan bekerja seperti biasa. Tuan Misteltein juga segera memberiku tugas untuk menghabisi sekelompok musuh di garis depan yang tampak kebingungan setelah kehilangan komandannya. Aku juga tidak mengerti bagaimana hal seperti itu bisa terjadi, kabarnya mereka telah dirasuki sesuatu hingga bergerak melawan kami dan menghabisi warga sekitar. Tentu saja mereka menyerah setelah melihat ketangkasan para Kesatria Orion yang kupimpin, dan pemberontakan mereka segera padam setelahnya.


--


“Lukisan ini cantik sekali, Tuan.” Ucapku sembari memperhatikan lukisan yang terpajang di ruang kerja Tuan Misteltein. Matanya bulat berwarna kuning terang serta raut wajahnya tampak natural dengan seragam pengrajin spesial yang tidak pernah kutemui sebelumnya. Batinku bertanya-tanya apakah sosok ini memang pernah hadir di kastil ini atau hanya buah imajinasi pelukisnya saja?


“Pelukisnya adalah gadis itu sendiri. Dia telah pergi Orhan, untuk melayani masyarakat di luar sana. Oh, dia juga pernah menyatakan kekagumannya padamu saat kau melakukan ekspedisi melewati desanya.”


Tuan Misteltein telah menggodaku untuk kesekian kalinya, tapi aku terhibur mendengarnya. Wajah gadis itu tampak mencerminkan kesungguhan dan ketelatenan dan aku mencintai gadis yang rajin seperti itu.


“Yah, dia memang cantik dan tampak dewasa,” aku berkata dengan pelan dan penuh penghayatan. “Kurasa aku sedang jatuh cinta pada gadis ini, Tuan.”


Tuan Misteltein hanya tersenyum ringan, lalu meninggalkanku yang sedang terpaku memandangi lukisan itu.


Di desa mana sebenarnya dia hidup ya?


------------------------------------------------------------------

“Paradoks, itulah kata yang tepat bagi cerita ini ketika saya berusaha merampungkannya. Bayangkan, ada banyak sekali ide dan alur rumit nan njelimet yang menjepit otak saya ketika menulis cerita ini. Saya sempat depresi sampai menangis sendiri ketika memilih untuk berhenti menulisnya karena tak kuat dengan tekanan batin cerita ini.” (dih lebay)

“Memang cerita ini cukup kuat pada endingnya, saya ketakutan kalau suspense tersebut tidak mampu dijangkau oleh pembaca. Hambatan ternyata datang dari banyaknya ide yang bermunculan dan menyempitkan jalan keluar yang ingin saya jangkau. Lalu mengapa cerita ini pada akhirnya terselesaikan”

-Hmm.. jujur saya juga tidak tahu.

”Tangan Tuhan yang telah menggerakkan diri saya sehingga cerita ini dapat terselesaikan. Hanya dengan satu kata pembuka yang tiba-tiba saya ketik dan semua ending itu menemukan jalan keluarnya sendiri. Semuanya seperti mengalun begitu saja, dan saya tidak berbohong mengenai itu”

“Intinya peran Tuhan adalah mutlak dalam setiap tindakan kita. Jadi janganlah sombong dan menganggap semua prestasi kita adalah akibat dari usaha kita sendiri.”

“Terima kasih sudah membaca cerita saya.”



Penulis: Sky Mahendrav

Penyunting: Lolita A. Franelsa


No comments