TERBARU

Siapa yang Salah

 

Penulis: Susanti

Malam ini sama seperti malam kemarin, penuh canda dan tawa antara aku dan adikku. Semua pekerjaan rumah sudah aku kerjakan, hanya satu yang belum sempurna yakni mengisi gentong air untuk memasak. Pikirku itu tidak terlalu masalah, toh masih ada meski tidak penuh. Selesai mengerjakan semuanya aku melihat adikku sudah terlelap, akhirnya aku memutuskan bermain handphone saja. 

Waktu menunjukkan pukul 20.30 WIB tapi ayah belum juga pulang dari tempat pemancingan. Padahal sebentar lagi pasti mama pulang dari toko. Benar saja, mama sampai di rumah lebih dulu dari pada ayah. Aku yakin pasti setelah ini ada masalah. 

Karena tidak mau mendengar perdebatan dan ocehan mama yang berlebihan, akhirnya aku memutuskan untuk kencan dengan laptop kesayanganku si putih. Dengan bermodal headset dan baterai laptop yang full, aku menonton film sekaligus mengerjakan tugasku. 

Aku mengamati mama sibuk mondar-mandir, entah apa yang dikerjakan dan aku hanya diam seolah fokus dengan tugasku. Waktu menunjukkan pukul 9 malam dan ayah baru saja pulang. Entah apa yang akan terjadi setelah ini.

Aku masih setia dengan laptopku. Volume laptop sengaja aku besarkan, pikirku agar aku tak mendengar ocehan mama ke ayah. Sampai akhirnya ayah menyapaku, menanyakan suatu hal kepadaku. Aku rasa suasananya sudah mereda, akhirnya aku kecilkan volumenya. 

Aku dengar samar-samar perbincangan mereka telah santai kembali dan aku masih setia menonton sampai film yang kuputar selesai. Setelah selesai aku memutuskan langsung tidur saja.

Waktu berjalan sampai akhirnya mentari menampakkan sinarnya. Semua masih sama seperti sebelumnya, tidak ada yang janggal. Waktu menunjukkan pukul 06.30 ayah harus berangkat bekerja. Adik masih setia di kamar, dia masih setia rebahan sampai waktu menunjukkan pukul 7 dan akhirnya dia keluar kamar menyapa mama. 

Namun siapa sangka ada hal yang tidak aku ketahui

"Mama pesan apa kemarin, nduk?" tanya mama dengan nada emosi

"Pesan apa ma?" jawab adikku yang masih kebingungan

"Coba diingat-ingat, mama pesan apa kemarin," kata mama masih dengan nada emosi

Seketika hening. Aku yang tidak tau apa-apa hanya bisa diam saja, sedangkan adikku masih berusaha mengingat. Akhirnya dia ingat.

"Masak air ta, ma?" jawab adikku, mencoba menebak

"Kalau tau gak ada air itu ya masak air! Masa mama pulang, air gak ada sama sekali. Mama masih harus ribet masak air dulu," mama penuh emosi

"Tapi aku wis masak air ma," jawab adikku, berusaha membela diri.

"Masak air cuma sedikit itu!" bentak mama kepada adikku.

Aku ingat satu hal. Aku lupa kalau airnya aku masukkan botol dan ku taruh di kulkas. Akhirnya aku bantu menjawab kalau airnya ada di dalam kulkas. Mama mengecek kulkas kemudian menutupnya dengan penuh emosi. Aku tidak tau kalau semalam mama mondar-mandir untuk mengisi gentong air untuk masak air. Aku tidak tau kalau semalam masalahnya justru itu. Karena mama tidak tanya apapun padaku. Kalau saja mama tanya, pasti masalah ini tidak akan ada. Andai saja aku tidak memasukkan airnya ke dalam kulkas. Andai saja ayah pulang sebelum mama datang. Andai saja adik tidak membuang air yang sebelumnya. Andai saja dan andai saja. Selalu seperti itu, penyesalan selalu ada di akhir. Tenyata memang benar, komunikasi itu perlu.

No comments