TERBARU

Resensi Buku: A Simple Neuroscience Perspective on How Our Food Control What We Think and Feel

Judul buku        : Your Brain on Food: How chemicals control your thoughts and feelings

Penulis            : Gary L. Wenk

Penerbit        : Oxford University Press

Tahun terbit        : 2010

Jumlah halaman        : 196


Why is it so hard to stop smoking?

Why is eating chocolate so pleasurable?

Does marijuana help to improve your memory in old age?

Is it really best to drink coffee if you want to wake up and be alert?


“Your Brain on Food: How chemicals control your thoughts and feelings” merupakan sebuah buku yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2010. Buku ini mengangkat tema yang bersinggungan dengan tiga bidang dalam sains yaitu psikofarmakologi, neuropsikologi, dan neurokimia. Gary L. Wenk, penulis buku ini, merupakan seorang profesor di Ohio State University and Medical Center dengan bidang keahlian psikologi, neurosains, virologi molekuler, imunologi, dan genetika kedokteran. Dalam buku ini, Gary L. Wenk mencoba mendemonstrasikan bagaimana makanan atau minuman yang masuk ke dalam tubuh kita memiliki efek langsung pada apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan.


Can the function of just one small group of chemicals really determine whether you’re happy and sad?

- Chapter 3: Euphoria, Depression, and Madness; page 51


Otak manusia tersusun atas sekitar 100 milyar sel saraf yang saling terhubung satu dengan yang lainnya. Sel-sel saraf ini memiliki kemampuan untuk melepaskan ratusan jenis senyawa kimia berukuran kecil (neurotransmitter) untuk keperluan komunikasi antarsel. 

Banyak dari makanan serta obat-obatan psikoaktif yang kita konsumsi berasal dari tumbuhan. Fakta ini telah mendorong para ilmuwan hingga pada tahap di mana mereka mengenali bahwa banyak senyawa penyusun tumbuhan yang memiliki struktur kimia sangat mirip dengan senyawa-senyawa neurotransmitter yang normalnya memang digunakan oleh otak dan tubuh kita. Ini menunjukkan sebuah prinsip dasar yang sangat penting yaitu bahwa makanan yang kita konsumsi hanya dapat memengaruhi otak apabila ia mengandung senyawa-senyawa yang mirip dengan neurotransmitter yang kita miliki, atau mampu berinteraksi secara langsung dengan proses biokimia dalam otak yang memengaruhi berbagai neurotransmitter tersebut.

Tumbuhan dapat menghasilkan senyawa-senyawa kimia yang mampu memengaruhi otak kita akibat adanya hubungan kekerabatan evolusioner. Sadar atau tidak, kita pasti pernah mengalami konsekuensi atas keberadaan hubungan kekerabatan evolusioner antara diri kita dengan tumbuhan yang kita makan. Sebagai contoh, pisang yang belum matang mengandung senyawa serotonin. Karena kesamaannya dengan neurotransmitter yang kita miliki, ketika kita memakan pisang ini, serotonin yang terkandung di dalamnya bebas bekerja pada sel-sel saraf di usus kita. Hal ini kemudian akan menyebabkan peningkatan aktivitas otot pada dinding usus yang pada akhirnya bisa menyebabkan diare.

Kita, manusia, tidak hanya berbagi hubungan kekerabatan evolusioner dengan tumbuhan, namun juga dengan makhluk hidup lain di bumi ini termasuk hewan. Dijelaskan dalam buku ini, fakta bahwa manusia memiliki hubungan kekerabatan evolusioner dengan serangga dan reptilia dapat membantu menjelaskan alasan mengapa racun akibat sengatan dan gigitan hewan-hewan ini dapat menyebabkan efek buruk pada tubuh kita. 

Secara umum, Gary L. Wenk menyajikan pembahasan mengenai makanan-makanan (dan tentunya zat kimia di dalamnya) yang dapat berfungsi sebagai brain stimulant pada separuh awal buku ini, sementara separuh bagian terakhir membahas senyawa-senyawa dengan sifat kebalikannya, brain depressant. Namun, salah satu fakta yang harus digarisbawahi yaitu bahwa garis pembatas antara kelompok stimulant dan depressant bisa menjadi rancu karena pada kenyataannya, otak kita tidak bekerja dalam dichotomous manner yang sesederhana itu. 

Penulis juga memberi penekanan bahwa setiap senyawa dapat memiliki efek majemuk pada tubuh kita. Senyawa-senyawa ini dapat bekerja dan memberi efek berbeda-beda pada berbagai organ tubuh secara bersamaan.

Selain itu, efek senyawa-senyawa kimia pada otak juga sangat dipengaruhi oleh kadar konsumsi serta riwayat genetik yang kita miliki. Secara umum, prinsip greater doses lead to greater effects dapat digunakan untuk menjelaskan korelasi dosis konsumsi senyawa kimia dengan efek yang terjadi dalam otak kita. Namun, terkadang dosis tinggi suatu senyawa kimia juga dapat menyebabkan efek yang benar-benar berkebalikan dengan dosis rendahnya. Karakter genetik yang dimiliki oleh setiap orang juga sangat memengaruhi efek yang muncul dari setiap makanan yang ia makan. Misalnya, terdapat sebuah kelainan genetik yang memengaruhi metabolisme alkohol penderitanya. Ketika mengonsumsi alkohol, orang dengan kelainan ini akan mengalami kelumpuhan sementara. Kelumpuhan ini disebabkan karena tubuhnya mengonversi alkohol menjadi senyawa turunan yang beracun bagi otot. Jika penderita kelainan metabolik ini terus-menerus mengonsumsi alkohol, ia akan mengalami gagal ginjal akibat penumpukan sisa-sisa sel otot yang telah mati di dalam ginjalnya. 

Buku ini merupakan bacaan yang sangat informatif dengan bahasa penulisan yang mudah dipahami serta dilengkapi dengan contoh-contoh yang cukup familiar dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentunya selaras dengan tujuan penulis yang tidak merancang buku ini sebagai bacaan yang menyajikan bahasan mendalam mengenai topik makanan yang kita makan dan efeknya pada otak kita, melainkan hanya sebagai bacaan pendahuluan singkat bagi mereka yang ingin memperdalam bidang ini. Gary L. Wenk bahkan juga telah menyediakan daftar rekomendasi bacaan lanjutan mengenai topik ini di bagian akhir buku yang ditulisnya. 

================

Resensi ini ditulis oleh: Mumtaz Nabilah Ulfa

No comments