TERBARU

Terima Kasih, Manusia.

 

Terima Kasih, Manusia.
Karya: FA

            ”Ahhh...Cepetan lari, nanti penyu itu memakan kita!” pekik Jelly kepada kedua teman ubur-uburnya, Jella dan Jello. Jelly, Jella, dan Jello segera berenang menjauhi penyu yang tiba-tiba muncul dari arah laut dalam yang berwarna biru gelap.

Jelly, Jella, dan Jello dengan susah payah menyedot dan menyembur air silih berganti dengan cepat. Tubuh transparan mereka kembang kempis berusaha keras berenang lebih cepat. 

”Hah..hah..hah! Jelly, Jella, aku capek, aku udah nggak kuat lagi,” ucap Jello putus asa.

Tubuhnya sudah kelelahan menyedot dan menyemprot air. Kecepatan berenangnya pun semakin melambat karena volume air yang disemprotkan semakin sedikit. Sementara itu di belakang Jello, penyu berenang semakin cepat ke arah mereka. Tampak di wajah penyu itu seringai senang karena akan mendapat mangsa.

“Hahaha! Percuma ubur-ubur cantik, kalian tidak akan bisa lari dariku. Kalian terlalu lambat!” ucap penyu penuh kesombongan.

“Ayo, Jello. Kamu pasti bisa, kita pasti bisa lari dari penyu itu!” teriak Jella.

Jello pun berusaha keras menyedot lebih banyak air agar semprotannya dapat mendorong tubuhnya menjauhi si penyu. Namun nahas, penyu itu semakin mendekat ke arah Jello dan kedua temannya. Jello yang berada paling belakang pun berhenti menyedot air karena sudah putus asa.

 “Kalian pergilah! Biar aku saja yang mati,” teriak Jello kepada kedua temannya.

Belum sempat menyanggah ucapan Jello, Jelly dan Jella harus terpekik kaget melihat penyu jahat itu melahap Jello seperti menyedot spageti. 

“Slurp..slurp, hmm enak sekali teman kalian, hahaha,” ucap si penyu dengan girang.

Jelly dan Jella hanya bisa menatap ngeri melihat temannya dimakan penyu. Mereka sangat syok hingga tidak bisa bergerak. Mata mereka tak bisa tertutup melihat kengerian yang terjadi. Namun beruntung, Jelly dapat menguasai dirinya kembali dan meneriaki Jella agar segera kabur.

 “Ayo, Jella! Ini kesempatan kita, cepat lari dari penyu itu!”

Jelly segera menyedot air sebanyak-banyaknya dan menyemprotkan air tersebut sekuat tenaga hingga tubuhnya terdorong ke depan menjauhi penyu. Jella yang masih syok baru tersadar beberapa detik kemudian setelah Jelly mulai berenang menjauh.

“Oh, tidak! Jelly tunggu aku!” ucap Jella dengan suara paraunya.

Dengan tubuh gemetaran, Jella mulai berenang menjauhi si penyu. Namun sayang, tubuhnya gemetar hebat sehingga ia hanya bisa menyedot sedikit air. Alhasil, dorongannya lemah dan kecepatan berenangnya lambat. Si penyu yang sudah selesai memakan Jello pun segera berenang menerkam Jella. Hap! Tentakel Jella pun tertangkap mulut penyu. 

 “Jelly tolong aku!” teriak Jella sambil menangis.

Si penyu dengan mudahnya mulai menyedot tentakel Jella bagaikan menyedot mi. 

“Slurp slurp, hmm sedap sekali ubur-ubur ini,” ucap penyu kegirangan.

“Jelly sakit, tolong aku, Jell!” pinta Jella putus asa.

“Maafin aku Jella, aku nggak bisa, gapapa ada yang mati asal ada yang selamat,” ucap Jelly.

Jella terkejut mendengar perkataan Jelly. Ingin rasanya ia memaki Jelly namun seluruh tubuhnya terasa sakit. Sedikit demi sedikit, tubuh mungil transparannya pun masuk ke dalam mulut si penyu jahat. Jelly yang berenang dengan gigih hanya melihat sekilas kondisi Jella sebelum dimakan habis oleh Si Penyu.

“Terima kasih kawan kalian telah berkorban untuk aku, aku janji akan tetap hidup!” ucap Jelly penuh harap.

Si Penyu yang sudah selesai menyantap Jella pun segera berenang mengejar Jelly. 

Hei, mau kemana kamu manis? Sini lah jangan jauh-jauh dari papa, wkwkwkwk,” goda Si Penyu.

“Tidak, pergi! Jangan dekati aku, kumohon!” Teriak Jelly.

Jelly tetap berenang secepat yang ia bisa. Namun sayang, Si Penyu sangat cepat berenang. Penyu dengan mudahnya mengejar dan menangkap Jelly. Hap!

“Sini sayang, come to Papa!” ucap Si Penyu tepat sesaat sebelum ia menggigit tentakel Jelly.

Jelly pun meronta-ronta. Tentakelnya segera melilit kepala penyu. Ia berusaha sekeras mungkin agar lepas dari gigitan Si Penyu.

 “Lepasin aku! Dasar penyu jahat, lepasin!” Teriak Jelly penuh harap.

“Hahaha, tidak akan! Kamu adalah makanan yang enak, mana sempaaat keburu lapaaar,” ledek Si Penyu.

Perlahan tapi pasti tubuh Jelly pun tenggelam ke dalam perut Si Penyu jahat.

AAAAAAAAAA!!” Teriak Jelly.

Matanya terbuka lebar. Jelly melihat mamanya sedang menatap gelisah.

“Mama?” ucap Jelly gemetaran.

 “Kamu kenapa sayang? Mimpi buruk?” tanya Mama Jelly.

Jelly mengangguk sambil menangis. Ia benar-benar ketakutan akibat mimpi buruk yang baru saja ia alami. Mimpi tersebut terasa sangat nyata. Mama jelly pun memeluk anak kesayangannya dengan erat menggunakan tentakel-tentakelnya.

“Ma, aku tadi mimpi kalo aku, Jella sama Jello mati dimakan penyu, huhuhu,” ucap Jelly di pelukan Mamanya.

“Hahaha mimpi kamu aneh banget sayang,” ledek Mama Jelly sembari tertawa.

“Mama kok jahat banget sih, aku kan habis mimpi buruk!” sergah Jelly penuh kesal.

“Ya ampun, sayang. Kamu ini lebay banget. Kita sekarang sudah aman dari penyu-penyu itu. Tenang aja,” ucap Mama Jelly penuh keyakinan.

“Lah kok bisa?” tanya Jelly.

“Tuh lihat!” ucap Mama Jelly. 

Mama Jelly menunjuk puluhan onggokan plastik bening yang banyak melayang di sekitar mereka dengan tentakel-tentakel lentiknya. Terlihat seekor penyu bodoh yang sedang memakan plastik bening tersebut dari kejauhan. Di sekelilingnya juga tampak beberapa penyu dengan lahap memakan plastik-plastik yang melayang-layang di tengah lautan. Penyu-penyu itu mengira bahwa plastik itu adalah ubur-ubur.

“Kamu tenang saja, anakku. Sekarang kita aman, kenapa? Karena penyu-penyu bodoh itu mengira bahwa plastik-plastik itu adalah kita, hahaha,” terang Mama Jelly.

 “Benarkah, Ma? Wah! Syukurlah,” ucap Jelly lega.

“Iya dong, masa mama bohong,” jawab Mama Jelly.

“Tapi Ma, plastik itu darimana sih datangnya?” tanya Jelly penasaran.

Ya, tentu saja dari manusia, mereka selalu buang banyak plastik ke laut. Dulu kita memang harus hati-hati sama penyu, tapi berkat plastik dari manusia sekarang kita nggak perlu khawatir lagi, berterima kasihlah pada manusia,” ucap Mama Jelly panjang lebar.

Wah! Ternyata manusia baik sekali ya Mama, terima kasih manusia!” ucap Jelly riang.

Iya, dulu waktu Mama muda, ubur-ubur sedikit banget. Tapi sekarang jadi banyak karena plastik dari manusia menyelamatkan kaum kita,” tegas Mama Jelly.

Manusia memang hebat! Oh iya Ma, aku laper. Ada larva ikan kecil ga? Atau udang kecil gitu?” tanya Jelly.

Waduh Jelly, larva di pantai ini sudah habis dimakan semua sama kaum kita, yuk pindah ke tempat lain yang ada banyak makanannya!” ajak Mama Jelly.

“Yuk, skuy, yaha hayyuuuk!” sahut Jelly penuh semangat.


- Tamat -


No comments