TERBARU

New Normal: Egoisme di Tengah Pandemi

   Oleh: Ramtikainda Suryani*

Data paparan Covid-19 di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Pemerintah hingga Sabtu, 18 Juli 2020, diketahui terdapat 1.462 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Angka tersebut menambah jumlah kasus positif sehingga kini sebanyak 83.130 jiwa penduduk Indonesia terkonfirmasi menderita Covid-19, terhitung sejak kasus pertama yang diumumkan pada 2 Maret 2020. Angka tersebut terus bertambah setelah diperkenalkannya istilah new normal pada masyarakat seiring ajakan Presiden Jokowi untuk "berdamai" dengan Covid-19 lantaran hingga kini vaksin virus corona belum ditemukan.

Namun banyak masyarakat yang kurang memahami maksud dari istilah new normal. Hal ini berdampak pada perilaku masyarakat yang seakan abai dan menganggap situasi saat ini sudah mulai aman. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas sosial yang mulai melonjak, seperti pada Car Free Day, pasar, mal, dan tempat lain yang menyebabkan keramaian. Masyarakat juga banyak yang kurang maksimal dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti tidak menggunakan masker, mencuci tangan, dan masih berkerumun di tempat-tempat yang ramai. Sikap normal yang ditunjukkan masyarakat dengan abai terhadap protokol kesehatan menjadi penyebab utama sulitnya memutus rantai penyebaran Covid-19. 

Penggunaan istilah new normal yang tidak dapat dipahami sebagian besar masyrakat ini tentu meresahkan. Dilansir dari kompas.com, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, bisa dibilang sebagai orang pemerintahan yang paling awal mengakui bahwa ia menghindari penggunaan frasa new normal karena menurutnya tidak relevan dengan konteks covid-19. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto juga mengakui istilah era kenormalan baru atau new normal bukan diksi yang tepat pada acara peluncuran buku Menghadang Corona: Advokasi Publik di Masa Pandemi karya Saleh Daulay secara virtual, Jumat (10/07).

Kita yang aktivitas sosialnya terbatasi mungkin senang dengan istilah new normal yang bisa dijadikan kesempatan untuk menjalani kembali kehidupan normal. Tetapi kita perlu menyadari bahwa Indonesia saat ini masih berisiko mengalami penularan covid-19 yang tinggi. Kita tidak bisa bersikap santai dan abai di tengah pandemi ini. Indonesia sedang tidak baik-baik saja, sampai kapan kita akan terus bersikap egois?


                                *Penulis merupakan mahasiswi S1 Kimia 2019. Saat ini tercatat sebagai anggota divisi PPA LPM basic 2020.

No comments