TERBARU

Jujur Itu Berkah





         Pagi ini, terlihat tumpukan buku lawas yang mulai berserakan. Aku tergerak untuk membereskannya. Kegiatanku terhenti ketika melihat suatu dokumen yang sangat berarti. Dokumen itu merupakan bukti akhirku mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Ya, itu adalah ijazahku. Kubuka perlahan ijazah itu dan terlihat angka-angka yang membuatku bernostalgia. Nilai matematika dengan sempurna bertengger di sana. Usahaku untuk mendapatkan  semua itu cukup berat. Aku dihadapkan antara dua pilihan, antara jujur dan curang. 

***
Hari itu adalah hari dimana semua siswa kelas 12 diuji kemampuannya setelah 3 tahun mendapat didikan. Tahun itu, Ujian Akhir Sekolah Berbasis Nasional untuk kali pertama dilakukan secara online. Seperti biasa, pasti ada oknum curang yang memperjual-belikan kunci jawaban. Dan hal itu terjadi di sekolahku. Di saat aku sibuk belajar, teman-temanku sibuk menghafal jawaban.

“Tadi yang jawabannya 6 yang soalnya bagaimana?”

“Itu.. yang mencari gradien garis.”

Seperti itulah cuplikan obrolan kawan sebelum masuk ruang ujian.

         Hampir semua temanku berbuat curang, bahkan kawan yang cukup berprestasi juga ikut melakukan. Dia takut jika nilainya nanti paling jelek di antara semua kawan. Jika ditanya bagaimana perasaanku melihat semua itu, jawabanku sudah pasti kecewa. Jika ditanya apakah aku takut mendapatkan nilai paling jelek diantara lainnya, jawabanku pasti iya. Bagaimana tidak? Aku berusaha menjawab jujur dengan segala kemampuanku yang belum pasti benar jawabannya, sedangkan mereka tinggal memilih jawaban tanpa perlu memusingkan kepala.

Ada seorang teman yang merasakan kepahitan seperti apa yang aku rasakan. 

“Apakah kamu tidak marah melihat teman-teman sudah mengetahui jawabannya sedangkan kita harus belajar mati-matian, Na? Bukankah ini mengingkari keadilan?” tanyanya.

Aku tersenyum,
“Siapa yang tidak sakit hati Re? Aku juga manusia. Sama sepertimu.”

“Apakah kamu tidak berniat melapor ke guru?”

“Sepertinya mereka sudah tahu, Re. Yang terpenting jangan sampai kita melakukan. Kita harus tetap dalam kejujuran," pintaku.

Namun, hati manusia tiada yang tahu. Ia mudah dibolak-balikkan. Kalian lengah, imanmu goyah. Satu-satunya orang yang sepemikiran akhirnya melakukan. Iya, Renia temanku juga berbuat curang. Bahkan sahabatku juga menawarkan kunci jawaban. 

“Na, aku ada kunci jawaban Bahasa Inggris. Apakah kamu mau?” tawar sahabatku.

“Tidak Do. Itu tidak baik. Lebih baik aku mendapatkan nilai buruk, daripada nilai baik hasil mencuri. Mari berhenti,” ujarku.

“Ah kamu. Cupu sekali!” balasnya.

         Pada hari kelima ujian, semua siswa dikumpulkan. Seorang guru berkata, “Allah adalah dzat yang Maha Melihat. Segala sesuatu yang kalian perbuat tidak ada satupun yang tak terlihat. Kalian sudah beranjak dewasa. Bijaklah dalam bertindak. Untuk anak-anakku yang berbuat jujur, jangan risau. Pasti selalu ada keadilan untuk setiap kejujuran dan kebenaran. Jujur itu indah juga membawa berkah.” 

Itulah kalimat yang dilontarkan guruku yang juga menguatkanku. Sampai akhirnya pengumuman kelulusan juga datang, aku dan kawan-kawanku begitu tegang. Acara itu diiringi dengan pelepasan yang dihadiri wali murid. Wakil Kepala Sekolah membacakan hasil Ujian Nasional dan nama-nama peraih peringkat awal. Setelah itu Wakil Kepala Sekolah mengumumkan 3 lulusan terbaik untuk angkatanku hingga sampai pembacaan lulusan terbaik pertama.

“Untuk lulusan terbaik pertama diberikan kepada...” ucap Wakil Kepala Sekolah. 

Aku dan kawanku begitu tegang untuk mendengar kelanjutannya. 

“Ananda .... Teresia Ananta"

Riuh tepuk tangan menghiasi panggung acara. Aku senang serta haru atas kerja kerasku. Lalu aku dan ibuku diminta menuju panggung untuk foto bersama. Terlihat pancaran bahagia dan bangga dari raut wajahnya.

Waktu itu aku menjadi orang terbahagia. Anggapanku tentang kejujuran memang benar adanya.

-Tamat-

=======
Penulis: Ulfi Daniati
Editor: A. Atsal Syanahkri

No comments