TERBARU

Mahasiswa yang Merdeka


Oleh:  Fathul Aziz*

Apatis menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti acuh tidak acuh, tidak peduli, dan masa bodoh dengan lingkungan sekitar. Mahasiswa yang dilabeli apatis oleh mahasiswa idealis katanya adalah mahasiswa yang memiliki nilai IPK tinggi, ambisius dalam mengejar nilai, senang mencari muka di hadapan dosen dan hanya melakukan sesuatu demi keuntungan diri sendiri. Namun sekali lagi, itu anggapan mereka yang katanya idealis.

Idealis menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti orang yang memiliki cita cita tinggi. Mahasiswa yang mengaku idealis biasanya menganggap dirinya orag yang peduli lingkungan, ikhlas membantu orang lain, dan selalu berani berkorban untuk orang lain. Namun, mahasiswa yang katanya apatis menganggap mahasiswa idealis adalah mahasiswa yang senang mencari popularitas, melakukan segala sesuatu demi orang lain hanya agar dianggap baik, tetapi selalu hilang kabar dan masa bodoh dalam hal akademis. 

Mahasiswa seolah terpecah menjadi dua kelompok oposisi. Masing-masing saling menyalahkan satu sama lain. Mahasiswa idealis menganggap mahasiswa apatis sebagai mahasiswa yang tidak peka, egois, dan terlalu ambisius dalam mengejar prestasi, sementara mahasiswa yang dilabeli apatis menganggap mahasiswa idealis sebagai mahasiswa sok pahlawan, suka mencari muka di hadapan banyak orang, tetapi tidak mau berkontribusi apapun dalam hal akademik.

Teman-teman mahasiswa, saya yakin kondisi ini ada di jurusan, fakultas, dan kampus manapun di Indonesia. Perpecahan ini sebenarnya terjadi karena perbedaan cara pandang saja. Jika kedua kubu mau saling mengerti satu sama lain, maka perpecahan tersebut tidak akan terjadi.

Mahasiswa yang katanya apatis pasti memiliki alasan yang kuat dan logis mengapa mereka cenderung menghindar dari kegiatan non-akademik seperti organisasi dan kegiatan seremonial lainnya. Tuntutan untuk bertahan di tanah perantauan sering kali memaksa mahasiswa untuk mengesampingkan kegiatan non akademik. Tuntutan ekonomi misalnya, dapat membuat mahasiswa harus menghabiskan waktunya untuk bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang untuk biaya kuliah. Selain itu, tuntutan di pondok pesantren bagi mahasiswa yang mondok juga mengharuskan mahasiswa bersangkutan untuk belajar dan menghabiskan waktu senggangnya untuk mengikuti kegiatan pesantren, sehingga tidak memiliki waktu luang untuk mengikuti kegiatan non akademik. Walaupun tidak mengikuti kegiatan non akademik di kampus, banyak mahasiswa yang katanya apatis mengembangkan soft skill-nya di kegiatan ekstra kampus, misalnya seperti berwirausaha.

Mahasiswa idealis pun seolah salah berfikir dan sering sekali menghakimi mahasiswa yang dilabeli apatis. Mahasiswa idealis seolah-olah menganggap semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi yang sama, memiliki kondisi sosial yang sama, dan harus mengembangkan potensinya melalui jalur yang sama dengan mahasiswa idealis. Padahal mahasiswa idealis sendiri sering kali salah melangkah sehingga ajang melatih soft skill malah merugikan diri sendiri. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa idealis yang tertunda kelulusannya demi mengembangkan diri. Organisasi yang bertujuan untuk melatih soft skill, mendapat relasi dan mengasah kemampuan bersosialisasi, justru menghambat kelulusan mahasiswa idealis. Mahasiswa idealis selalu mengatakan soft skill lebih diutamakan daripada IPK dalam pekerjaan, namun nyatanya nilai IPK adalah syarat mutlak untuk mendapatkan pekerjaan. 

Sebagai manusia dewasa, mahasiswa sudah paham atas konsekuensi jalan yang telah dipilih. Menjadi apatis adalah mereka yang egois, suka berbuat curang, suka menjelek-jelekkan dan merugikan orang lain. Contoh nyata perwujudan manusia apatis adalah koruptor. Lantas, apakah mahasiswa yang dilabeli apatis telah merugikan orang lain, khususnya mahasiswa idealis? Kesenjangan ini tidak akan muncul jika mahasiswa idealis tidak ikut campur dan tidak banyak mengomentari kehidupan pribadi mahasiswa yang dilabeli apatis.

Sesuai dengan perkataan Soe Hok Gie, "Ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus? Tapi aku memilih menjadi manusia yang merdeka", mahasiswa sebagai manusia merdeka memiliki hak untuk menentukan jalan yang akan ia lalui, tanpa paksaan dan pengaruh dari orang lain. Mahasiswa seharusnya saling menghargai dan mengerti satu sama lain.

*Penulis merupakan mahasiswa S1 Biologi 2018. Dia juga merupakan Staf Redaksi LPM basic FMIPA UB 2019.

No comments