TERBARU

KAMI TIDAK BUTUH LEMBAGA !!!

Siapa sangka seorang rakyat biasa menggerakan berjuta-juta orang di masa itu? Siapa sangka juga gerakan yang dipimpinnya itu mengundang simpati rakyat yang tidak ikut tergerak? Dialah Soekarno sang putra fajar, penggerak berjuta-juta massa bahkan yang bukan massanya sekalipun.

Setiap masa tentu saja ada pengeraknya. Contohnya, seorang buruh tani saja bisa menjadi penggerak, bahkan pelopor. Apalagi seorang mahasiswa biasa yang bercita-cita tinggi, pasti bisa.

Sudah dua tahun lamanya—mungkin saja dari dulu kali ya—FMIPA mengalami kemunduran. Maksud saya di sini adalah mundur dalam hal kepemimpinan serta keberanian, bukan dalam hal penelitian dan prestasi yang selalu dielu-elukan oleh UB sebagai pencetak ilmuwan sejati. Semua kampus, tanpa terkecuali, memiliki visi yang dinamakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mungkin saja FMIPA sebagai pencetak ilmuwan kurang mampu mengimplementasikan poin-poinnya. Atau mungkin semangat mahasiswanya yang sudah dilemahkan oleh sistem yang ada. Atau justru mahasiswanya yang kurang ingin berpikiran terbuka dengan keadaan FMIPA sekarang. Mungkin juga mereka hanya bertindak masa bodoh dengan MIPA. Ataukah mereka hanya menganggap lembaga kemahasiswaan sebagai tempat melepas penat serta mencari teman dan popularitas saja? Bahkan, bisa dibayangkan apabila lembaga-lembaga itu mati. Siapa yang bisa disalahkan? Birokratkah? Penguruskah? Ataukah mahasiswa FMIPA?

Dana 500 juta yang diberikan oleh Tuan Agung Rektorat kepada bawahannya pun akan terbuang sia-sia apabila mahasiswanya saja tidak ikut menikmatinya. Lalu, siapakah yang harus disalahkan? (gpw)

No comments