TERBARU

PEMILWA MIPA, Akankah Berujung Aklamasi ?

(DPM memimpin sidang MUMF)
opini-basic-Keputusan MUMF Luar Biasa Kedua yang dilaksanakan Selasa, 1 Desember 2015 memberikan sedikit harapan untuk keberlangsungan PEMILWA Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Pasalnya, pada MUMF tersebut dihasilkan keputusan akan diberikan waktu tambahan 7x24 jam untuk pengambilan dan pengembalian formulir bagi mahasiswa MIPA yang ingin mencalonkan diri sebagai Presiden dan Wakil Presiden BEM dan DPM. Sebelumnya bakal calon yang mendaftar hanya satu pasangan untuk BEM dan empat untuk DPM. 

Keputusan lain dari MUMF tersebut adalah tetap dilaksanakannya PEMILWA apabila jumlah bakal calon yang mendaftar tidak berubah dari sebelumnya. PEMILWA akan dilaksanakan sesuai dengan tata cara PEMILWA pada umumnya, namun yang menjadi pembanding atau lawan bagi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden BEM adalah Kotak Kosong. Mahasiswa MIPA berhak memilih calon yang sudah ditetapkan atau memilih Kotak Kosong. Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden BEM dapat memenankan PEMILWA apabila mampu mengumpulkan suara 50%+1 dari jumlah suara yang sah sedangkan DPM dinyatakan lolos jika mampu mengumpulkan 10% dari total suara yang sah. 

Tetapi, apabila pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden BEM tidak mampu mengumpulkan suara yang sudah ditentukan maka PEMILWA akan diulang. PEMILWA ulang ini hanya sebatas pembukaan kembali pendaftaran bagi calon Presiden dan Wakil Presiden, namun apabila calon yang mendaftar masih satu pasang maka akan dilakukan Aklamasi.

Keputusan Aklamasi atau tidaknya PEMILWA MIPA tahun ini, tergantung dari ada tidaknya tambahan calon yang baru selama masa perpanjangan waktu pendaftaran. Tetapi, jika memang pada akhirnya hanya satu pasang calon yang ditetapkan maka keputusan Aklamasi tergantung dari kapablitas yang dimiliki oleh pasangan calon yang ditetapkan. Disinilah akan diuji sampai sejauh mana mahasiswa MIPA memiliki kepercayaan terhadap calon pemimpin mereka atau bahkan menguji sejauh mana ketertarikan mahasiswa MIPA berpartisipasi dalam kegiatan demokrasi ini. Bahkan bisa saja mahasiswa MIPA sudah tidak tertarik lagi dengan lembaga Eksekutif atau kemungkinan lainnya yang bisa saja terjadi.

Arus modernisasi dan budaya hedonisme yang makin menyeruak baik dikalangan mahasiswa maupun kegiatan yang disuguhkan oleh setiap lembaga di MIPA yang semakin mengurangi porsi kegiatan-kegiatan yang bersifat membangun, bisa saja menjadi alasan kemunduran minat mahasiswa mencalonkan diri sebagai pemimpin di BEM. Begitu juga halnya dengan berkurangnya forum-forum diskusi dari kelompok-kelompok mahasiswa menyebabkan perbincangan mengenai penerus BEM maupun DPM seakan tidak terdengar lagi. Oleh karena itu, melihat kenyataan MIPA saat ini maka tidak heran bayang-bayang aklamasi itu bisa saja terjadi.

Pelaksanaan PEMILWA tahun ini memang menjumpai lebih banyak masalah dibandinkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dua tahun lalu, jumlah pasangan calon untuk BEM adalah 3 dan tahun kemarin jumlah pasangan calon untuk BEM adalah 2. Tetapi untuk tahun ini, terancam hanya satu pasang calon untuk BEM. Jika hal ini terjadi, maka sudah jelas bahwa terjadi kemunduran dari tahun-tahun sebelumnya. Kenyataan ini masih belum menjadi keputusan final, sebelum panitia PEMILWA mengumumkan secara resmi daftar calon tetap. Tetapi, sebagai warga MIPA kita lebih baik bersama-sama berharap kelancaran untuk PEMILWA dan substansi PEMILWA sebagai pembelajaran demokrasi dapat kita rasakan serta yang terpenting adalah terpilihnya pemimpin yang benar-benar dibutuhkan dan dapat membangun MIPA kearah yang lebih baik. (fyl)

No comments