TERBARU

BUMI SAJA

Sumber Gambar

Bagaimana bumi bisa menjadi tertawa kalau pembuminya saja tertidur pulas bagai kerbau pemalas? Bagaimana curah hujan bisa meningkat kalau di gurun pasir air benar-benar terkikis sepi? Bagaimana caranya agar bumi kembali tersenyum?
Aku melihatnya murung seketika, saat terik mulai menelusup epidermis, hipodermis dan menyebabkan kehancuran sel basal karsinoma. Skuamosapun bergeliat seakan-akan dia cacing hendak menyeruak hingga Karsinoma menjalar bagai ubi jalar
Hati ini kelu. Minyak di bumi semakin membumbung ke langit nominalnya, katanya. Aku juga tidak tahu pasti. Banyak demonstrasi di yang mempunyai jabatan bersekolah di perguruan tinggi. Apalagi jendral, letnan, serta inspektur berceloteh dengan peluru nestapa. Merengkuh dengan pasti kebersamaan hidup yang adil dan tak adil juga. Kembang api seperti pesona yang merubuhkan segala fasilitas negara.
Pucuk dicinta bumiku. Angan berangan merendah tinggi dan petinggi juga berhembus kencang. Bumiku penting berbahagia dalam cinta yang sendu. Aku hanya ingin bumi menjadi milik umat yang bersahaja. Bukan cinta yang penuh canda dan dusta periang. Bumi, ini bukan hari bumi. Tapi ini untuk bumi… (Uwan Urwan)
Situbondo, 2 April 2012

No comments